Senin, 15 Februari 2010

GENDER DAN KESEHATAN MENTAL

GENDER

DAN KESEHATAN MENTAL

GENDER (dibaca: "gènder") mengacu pada sekumpulan ciri-ciri khas yang dikaitkan dengan jenis kelamin individu (seseorang) dan diarahkan pada peran sosial atau identitasnya dalam masyarakat. Gender berbeda dari seks atau jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) yang bersifat biologis, walaupun dalam pembicaraan sehari-hari seks dan gender dapat saling dipertukarkan. WHO memberi batasan gender sebagai "seperangkat peran, perilaku, kegiatan, dan atribut yang dianggap layak bagi laki-laki dan perempuan, yang dikonstruksi secara sosial, dalam suatu masyarakat."

Transgender adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan orang yang melakukan, merasa, berpikir atau terlihat berbeda dari jenis kelamin yang ditetapkan saat mereka lahir. "Transgender" tidak menunjukkan bentuk spesifik apapun dari orientasi seksual orangnya. Orang-orang transgender dapat saja mengidentifikasikan dirinya sebagai heteroseksual, homoseksual, biseksual, panseksual, poliseksual, atau aseksual. Definisi yang tepat untuk transgender tetap mengalir, namun mencakup:

- "Tentang, berkaitan dengan, atau menetapkan seseorang yang identitasnya tidak sesuai dengan pengertian yang konvensional tentang gender laki-laki atau perempuan, melainkan menggabungkan atau bergerak di antara keduanya."

- "Orang yang ditetapkan gendernya, biasanya pada saat kelahirannya dan didasarkan pada alat kelaminnya, tetapi yang merasa bahwa deksripsi ini salah atau tidak sempurna bagi dirinya.”

- "Non-identifikasi dengan, atau non-representasi sebagai, gender yang diberikan kepada dirinya pada saat kelahirannya."

Dalam isu LGBT, gender dikaitkan dengan orientasi seksual. Seseorang yang merasa identitas gendernya tidak sejalan dengan jenis kelaminnya dapat menyebut dirinya "intergender", seperti dalam kasus waria.

Dalam konsep gender, yang dikenal adalah peran gender individu di masyarakat, sehingga orang mengenal maskulinitas dan femininitas. Sebagai ilustrasi, sesuatu yang dianggap maskulin dalam satu kebudayaan bisa dianggap sebagai feminin dalam budaya lain. Dengan kata lain, ciri maskulin atau feminin itu tergantung dari konteks sosial-budaya bukan semata-mata pada perbedaan jenis kelamin.

Waria (portmanteau dari Wanita-pria) atau wadam (dari hawa-adam) adalah laki-laki yang lebih suka berperan sebagai perempuan dalam kehidupannya sehari-hari. Keberadaan waria telah tercatat lama dalam sejarah dan memiliki posisi yang berbeda-beda dalam setiap masyarakat. Walaupun dapat terkait dengan kondisi fisik seseorang, gejala waria adalah bagian dari aspek sosial transgenderisme. Seorang laki-laki memilih menjadi waria dapat terkait dengan keadaan biologisnya (hermafroditisme), orientasi seksual (homoseksualitas), maupun akibat pengondisian lingkungan pergaulan.

Pandangan psikologi mengatakan bahwa transgenik merupakan salah satu bentuk penyimpangan seksual baik dalam hasrat untuk mendapatkan kepuasan seksual maupun dalam kemampuan untuk mencapai kepuasaan seksual

Seperti yang diungkapkan oleh seorang tokoh psikologi,Sigmund Freud (6 Mei 1856 - 23 September 1939)konsep dari teori Freud yang paling terkenal adalah tentang adanya alam bawah sadar yang mengendalikan sebagian besar perilaku. Selain itu, dia juga memberikan pernyataan pada awalnya bahwa prilaku manusia didasari pada hasrat seksualitas yang pada awalnya dirasakan oleh manusia semenjak kecil dari ibunya. Pengalaman seksual dari Ibu, seperti menyusui, selanjutnya mengalami perkembangannya atau tersublimasi hingga memunculkan berbagai prilaku lain yang disesuaikan dengan aturan norma masyarakat atau norma Ayah.

Di lain pihak, pandangan sosial beranggapan bahwa akibat dari penyimpangan perilaku yang ditunjukkan oleh waria dalam kehidupan sehari-hari akan dihadapkan pada konflik sosial dalam berbagai bentuk pelecehan seperti mengucilkan, mencemooh, memprotes dan menekan keberadaan waria di lingkungannya.

Dalam hal ini individu yang mengalami transgenic, yaitu dimana individu tersebut berlaku tidak seperti jenis kelaminnya yang didapat sejak lahir, tidak menemukan identitas diri dengan keadaan awal. Setelah terjadi perubahan pada diri individu tersebut, individu tersebut merasa telah menemukan identitasnya dengan keadaan saat ini.

Keadaan tersebut juga dapat terjadi akibat banyaknya tekanan atau tuntutan terhadap dirinya, hingga individu tersebut merasa tertekan dan dapat mengalami depresi bila tidak dapat mencapainya.

Individu juga merasa belum terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan dasar, dimulai dengan rasa kurang dihargai, merasa tidak mendapat kasih sayang. Hal ini tentu sangat berkaitan dengan teori hierarki kebutuhan Maslow.

Dalam pembentukan konsep diri, apabila konsep diri seseorang bersifat positif maka ia memiliki kepribadian yang bersifat stabil, dapat menerima dirinya apa adanya, mampu merancang tujuan hidup dan mampu menghadapi kehidupan dimasa yang akan datang. Sebaliknya bila seseorang mengembangkan konsep diri negatif, maka seseorang memiliki pandangan dan pengetahuan yang buruk tentang dirinya.tidak memiliki kestabilan diri dan tidak dapat menerima kritikan dari orang lain mengenai dirinya

Keluarga menjadi bagian yang sangat penting dalam sosialisasi primer, dimana seseorang pada masa kanak-kanak mulai dikenalkan dengan nilai-nilai tertentu dari sebuah kebudayaan. Di dalam keluarga pula seseorang dibentuk dan akhirnya menciptakan suatu kepribadian tertentu. Kebiasaan-kebiasaan dan pendidikan keluarga memegang peranan yang sentral dalam memperkenalkan nilai, norma dan kebudayaan (Koeswinarno, 2004 : 149). Oleh sebab itu, ketika seorang anak telah mencapai dewasa dan banyak mengenal nilai-nilai dari luar keluarga seringkali muncul konflik-konflik, terutama jika nilai yang didapat dari luar bertentangan dengan nilai-nilai di dalam keluarga. Selain pengaruh dari keluarga, konsep diri juga dapat terbentuk karena adanya interaksi individu dengan orang lain disekitarnya yaitu teman bergaul dan masyarakat (Pudjiyogyanti, 1985 : 21)

Munculnya fenomena kewariaan memang tidak lepas dari konteks kebudayaan. Kebiasaan-kebiasaan pada masa kanak-kanak ketika mereka dibesarkan di dalam keluarga, kemudian mendapat penegasan pada masa remaja menjadi penyumbang terciptanya waria. Tidak satu pun waria yang “menjadi waria” karena proses mendadak. Proses menjadi waria diawali dengan satu perilaku yang terjadi masa anak-anak melalui pola bermain dan bergaul (Nadia, 2005 : 45). Perilaku yang dipresentasikan pada masa anak-anak akhirnya menunjukkan ciri yang berbeda pula dibandingkan dengan teman-teman sebaya lainnya. Namun demikian “tanda-tanda yang berbeda”

tidak pernah disadari oleh orangtua mereka sehingga menjadi perilaku yang menetap (Koeswinarno, 2004 : 73).

Hadirnya seorang waria secara umum tidak pernah dikehendaki oleh keluarga mana pun. Tanggapan keluarga muncul setelah mengetahui adanya perilaku-perilaku tertentu yang dianggap menyimpang, sedang tanggapan waria muncul dalam bentuk reaksi-reaksi setelah keluarga mengetahui mereka. Di sini, tanggapan orangtua dianggap sebagai suatu konflik yang umumnya diakhiri dengan larinya anak dari orangtua dan keluarga. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mengaktualisasikan diri sebagai perempuan secara totalitas fisik, ber-make-up, dan berpakaian perempuan sekaligus sebagai sebuah penyelesaian.

Biasanya tindak penolakan orangtua waria umumnya dilakukan setelah mengalami proses “menjadi waria” dan hidup “sebagai waria”. Namun demikian, peran keluarga sangat penting bagi perkembangan waria. Seorang waria yang dilahirkan dalam keluarga yang baik, taat beragama, berpendidikan dan ditambah dengan keberadaan orangtua yang pada akhirnya menerima keberadaan mereka secara otomatis akan mempunyai pengaruh yang baik bagi perkembangan waria begitu pula sebaliknya yaitu apabila orangtua tidak pernah menerima keberadaan mereka akan mempunyai pengaruh yang buruk.

Berhubungan dengan hal tersebut di atas, peneliti ingin mengetahui secara mendalam tentang konsep diri kaum waria (transgender)

Calhoun (1995 : 90) mengatakan bahwa konsep diri adalah gambaran mental diri anda sendiri yang terdiri dari pengetahuan tentang diri anda, pengharapan bagi diri anda dan penilaian terhadap diri anda sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar